DPP - Wanita Katolik Republik Indonesia *** e-mail : info@dpp-wanitakatolik-ri.com * * *

Majalah KONTAK

SEKRETARIAT
DPP Wanita Katolik RI
Jl. Kayu Jati III No.8 Rawamangun,
Jakarta 13220
Telepon : (021) 475 8949 Fax : (021) 475 7257
Email : dpp_wkri@yahoo.com.sg



PERTOBATAN EKOLOGIS DALAM WUJUD NYATA

Al. Andang L. Binawan

Akhir-akhir ini kita mendengar istilah pertobatan ekologis. Biasanya, pertobatan itu dipahami dan dilakukan dalam konteks hidup pribadi dan hidup sosial. Baru akhir-akhir ini saja istilah pertobatan yang dikaitkan dengan ekologi atau lingkungan hidup mulai menyeruak. Tulisan ini akan mengulas tentang maknanya, isinya dan bentuk yang bisa dibuat untuk mewujudkannya. Untuk mempermudah, tulisan dibuat dalam bentuk tanya jawab. Sebagian besar dari tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah HIDUP, meski untuk maksud ini, ditambahi beberapa pokok supaya lebih jelas.

Pertobatan bisa diibaratkan dengan membuka hati bagi Tuhan, karena selama ini kita menutupnya. Gambar Yesus yang mengetuk pintu itu sangat inspiratif. Itulah gambaran Tuhan kita, yaitu BAPA yang mau datang pada kita. Nah, dosa adalah menutup pintu rapat-rapat bagi Tuhan yang mau masuk. Maka, bertobat adalah membuka pintu itu supaya Tuhan meraja bagi kita, membimbing dan menguatkan kita.

Apa arti pertobatan ekologis?

Pertobatan ekologis adalah pertobatan manusia dalam kaitan dengan lingkungan hidupnya, bukan hanya sesama manusia, melainkan dengan alam beserta isinya, termasuk tanah, air dan udara. Ingat, seluruh isi bumi adalah ciptaan Tuhan. Mendengarkan dan peduli pada alam adalah salah satu cara mendengarkan kehendak Tuhan. Keengganan kita mendengarkan suara alam dan ketidakpedulian kita padanya menimbulkan dosa ekologis. Karena itu, bertobat dari dosa ekologis berarti berbalik menjadi peduli, atau membuka telinga dan hati lebih luas bagi suara Tuhan melalui alam ini.
Kepedulian yang dimaksud adalah perhatian pada alam ini, yang kita imani diciptakan Tuhan ‘baik adanya (Kej. 1: 31). Semua diciptakan untuk saling mendukung dalam kehidupan. Nah, selama ini manusia kurang peduli, dan itu kemudian berakibat pada hidupnya sendiri. Karena itu, peduli lalu juga berarti menghargai seluruh ciptaan ini seperti yang dikehendaki Tuhan, bukan kehendak dan rencana manusia saja.
>>>Baca selanjutnya>>>

AJARAN SOSIAL GEREJA
AMANAT BAGI KETERLIBATAN WANITA KATOLIK RI DALAM MASALAH-MASALAH SOSIAL

YR. Edy Purwanto, Pr
(Penasehat Rohani DPP)

Pengantar
Ajaran Sosial Gereja (disingkat: ASG) merupakan amanat bagi keterlibatan setiap umat beriman Katolik dalam masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Penegasan pentingnya keterlibatan dalam problem-problem sosial di masyarakat itu sudah disampaikan sejak kemunculan pertama kali ajaran sosial Gereja yaitu pada tahun 1891 dengan dikeluarkannya Ensiklik “Rerum Novarum” (Tentang Hal-hal Baru) oleh Paus Leo XIII


Amanat tersebut ditegaskan pula oleh Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Zaman Modern (Gaudium et Spes – Kegembiraan dan Harapan) pada kalimat-kalimat awal artikel 1 yang berbunyi: “KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”.

Dengan menyebut bahwa amanat social itu ditujukan kepada setiap umat beriman Katolik, maka dengan sendirinya setiap anggota Wanita Katolik sebagai pribadi perorangan dan sebagai organisasi social kemasyarakatan yang aktif, punya kewajiban untuk melaksanakan amanat tersebut. Tanggungjawab sosial itu harus diwujudkan dalam keterlibatan nyata menjawab dan memecahkan problem-problem sosial yang ada di masyarakat.

Kembali ke Awal
Kalau kita sejenak mau kembali ke sejarah awal berdirinya organisasi Wanita Katolik RI, maka kita akan segera menemukan fakta bahwa organisasi ini dibentuk pertama-tama untuk menjawab problem sosial pada zamannya, bukan untuk menjadi organisasi pendoa atau organisasi arisan. Maka semangat itu pulalah yang semestinya kita warisi dan kita kembangkan hingga saat ini dan untuk ke depan (selanjutnya).

Ibu Soelastri Soejadi sebagai penggagas Wanita Katolik RI terpanggil untuk mencari jalan keluar guna meningkatkan martabat dan mempersatukan wanita yang beragama Katolik. Kita tahu bahwa pada zaman pendudukan Belanda atas Indonesia, taraf hidup para buruh sangat buruk. Hal memprihatinkan itu dijumpai oleh Ibu Soelastri di Pabrik Cerutu Negresco di Yogyakarta. Menyaksikan hal yang memprihatinkan itu, Ibu Soelastri Soejadi menghubungi sang pemilik pabrik dan menegosiasikan pentingnya meningkatkan taraf hidup dan kualitas hidup para buruhnya.

Nyonya Soelastri mendesak kepada pemilik pabrik cerutu Negresco untuk menerapkan seruan sosial Gereja sebagaimana ada dalam Ensiklik Rerum Novarum. Atas desakan tersebut pemilik pabrik menyatakan kesiapannya membagi sebagian dari tatiem (keuntungan) perusahaan kepada para buruh. Pada masa itu pembagian keuntungan perusahaan kepada buruh tidak dapat disetujui perusahaan lain dan tidak menjadi kultur mereka, sebab mereka mendirikan pabrik untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya (salah satunya gaji buruh) serendah-rendahnya.

Perjuangan meningkatkan taraf hidup kaum buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan juga di beberapa pabrik komoditas lainnya dibarengi oleh Ibu Soelastri dengan mengembangkan orientasi pikir perempuan dengan menggagas berdirinya suatu organisasi Wanita Katolik RI. Memang tidak mudah merealisasikan gagasan tersebut, sebab konsilidasi kekuatan perempuan seperti itu bisa dianggap sebagai ancaman oleh pihak-pihak lain. Namun demikian upaya itu tetap dilakukan

Akhirnya Ibu Soelastri dengan dukungan Pater Henri van Driessche, SJ, mengumpulkan guru-guru eks Mendut untuk merealisasikan gagasannya. Para perempuan itu disadarkan akan pentingnya mereka eksis dalam masyarakat. Mereka bukan hanya anggota Gereja tetapi juga anggota masyarakat yang punya tugas mewujudkan kesejahteraan bersama. Maka proses itu berbuah indah ketika pada tanggal 26 Juni 1924 berdirilah Organisasi Wanita Katolik.

Perwujudan ASG
Panggilan dan perutusan Wanita Katolik RI pada zaman ini bukan untuk tiap-tiap berkumpul di altar dan berdoa serta latihan koor. Perutusannya adalah menghadapi dan menjawab problem-problem sosial yang selama ini menjadi keprihatinan kita bersama, seperti masalah kemiskinan, ketidaksetaraan perempuan dengan laki-laki, diskriminasi atas kaum perempuan dalam hal upah, perusakan lingkungan hidup yang akhirnya berimbas secara paling mencolok pada anak-anak dan kaum perempuan, dll.

Wanita Katolik RI dipanggil dan diutus untuk bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik mengatasi problem-problem sosial tersebut. Tentu spirit yang dihayati dalam menjalankan perutusan itu adalah spirit ASG, yaitu keberpihakan kepada mereka yang disebut kaum KLMT (kecil, lemah, miskin, dan terpinggirkan). Sejak awal digaungkan, ASG memperlihatkan keprihatinan dasar mengenai problem-problem social itu.

Pada periode 100 tahun pertama (dari Rerum Novarum hingga Centesimus Annus : 1891 – 1991) beberapa perhatian yang menjadi utama dalam perjuangan Gereja adalah tentang kerja, teknologi, keadilan, dan perdamaian. Sedangkan untuk 25 tahun terakhir ini (1991-2016) fokus itu juga semakin bertambah yaitu tentang keluarga, lingkungan hidup, partisipasi politik, human trafficking, dan kejahatan korupsi. Kesemua persoalan itu erat sekali berhubungan dengan perempuan dan bisa dikatakan bahwa korban pertama dan utama dari berbagai keprihatinan dasar tersebut adalah perempuan dan anak-anak

Marilah Belajar
Melihat perkembangan persoalan sosial di masyarakat kita saat ini, semakin penting dan semakin harus disadari bahwa keterlibatan kita dalam karya social hendaknya memiliki dasar yang kuat. Kita memang mempunyai Kitab Suci yang mengajarkan tentang Allah dan kasih-Nya, yang hendaknya itu dijadikan spirit utama keterlibatan sosial kita. Namun ASG memberikan tanggapan yang lebih kontekstual (bukan hanya tekstual), sehingga bisa menjadi tuntunan yang lebih jelas untuk terlibat secara lebih nyata dan bermakna.

Untuk itulah semakin perlu bagi Wanita Katolik RI, sebagai kekuatan organisasi sosial aktif dengan kekuatan personil lebih dari 70.000 anggota, mempelajari dan mengimplementasikan nilai-nilai ASG sehingga kehadiran Gereja menjadi lebih signifikan (nyata) bagi masyarakat luas dan semakin relevan (bermakna) bagi umat sendiri. Kita kerap merasakan bahwa Gereja kita mengalami gejala insignifikansi dan irrelevansi di tengah masyarakat.

Marilah kita mengambil serius imperatif (ajakan) ASG ini sebagai landasan gerak social kita. Kita berharap bahwa semua bentuk aktivitas kita memiliki roh dan jiwa yang bersumberkan Kitab Suci dan Ajaran Sosial Gereja.

Selamat menekuni ASG dan menjalankannya dalam karya organisasi maupun dalam keterlibatan pribadi di masyarakat.


YANTI GRAITO, SOSOK DI BALIK HYMNE WKRI

Jika ada diantara kita agak sulit menggambarkan seperti apa seharusnya tipe ideal bagi seorang Wanita Katolik RI, mungkin akan lebih mudah jika kita sebut saja, “Itu lho seperti ibu Yanti Graito.”  Mengapa demikian? Mulai dari tutur kata, pemahaman yang mendalam tentang organisasi, kesetiaan dalam iman Katolik, penampilan yang senantiasa rapih, loyal terhadap Wanita Katolik RI, seorang ibu yang lembut namun ulet (mengingat sang suami dipanggil Tuhan dalam usia relatif muda dan Yanti sang dosen perlu menjadi single parent terlampau dini)


Di usianya yang sudah memasuki angka 68 tahun, Bernardine Kusumo Indarwahyanti Graito atau yang lebih dikenal sebagai Yanti Graito ini masih terlihat sangat bugar, cantik dan anggun serta masih aktif di berbagai kegiatan, terutama di organisasi Wanita Katolik RI. Sebagai Penasihat Organisasi di DPP, Yanti  sangat setia mendampingi para pengurus DPP dan selalu memberikan wejangan dan arahan. Di berbagai kesempatan, misalnya dalam acara kaderisasi atau event nasional yang diselenggarakan DPP, beliau sering mengingatkan pentingnya roh atau spiritualitas Wanita Katolik RI kepada seluruh peserta

Selesai Rapat Pleno Pengurus DPP bulan Oktober lalu, kami tim KONTAK meminta waktu kepada ibu yang lahir di Yogyakarta tanggal 29 Februari 1948 ini untuk sekadar berbincang mengenai beberapa hal. Dengan ramah Yanti Graito bercerita bahwa sejak sekolah telah tertarik berorganisasi. Penikmat kopi hitam ini telah aktif sejak menimba ilmu di SMP Marsudirini dan SMA Fons Vitae. Pertama kali tertarik dengan Wanita Katolik RI karena ibunda beliau Valesca Soetandar adalah aktivis Wanita Katolik RI sejak awal berdirinya. Salah satu dari kelompok ibu-ibu muda siswi dan ex-siswi Mendut yang mendirikan Wanita Katolik RI di Gereja Kidul Loji, Yogyakarta saat itu dengan nama Poesara Wanita Katolik. Menjadi Ketua Presidium DPP dari tahun 1956-1963. Ayahanda  Yanti Graito aktif di Persatuan Guru Katolik (PGK) sedangkan suami Ignatius Graito aktivis Pemuda Katolik. Jadi lingkungannya sudah merupakan komunitas aktivis organisasi. Namun Yanti Graito benar-benar terjun di organisasi Wanita Katolik RI pada tahun 1978. Beliau menjadi Ketua Cabang Fransiskus Asisi Tebet, 10 bulan kemudian terpilih menjadi Ketua Presidium DPD Jakarta selama 2 periode tahun 1978 – 1981 dan tahun 1981 – 1984. Berikutnya menapak menjadi Ketua Bidang Organisasi DPP tahun 1984-1988 dan Ketua Presidium DPP tahun 1989 -1993 dan periode ke-2 tahun 1993-1999.
>>>Baca selanjutnya>>>

DPP - WANITA KATOLIK - RI

Sekretariat

Telepon nomor: (021) 4758949
Fax nomor: (021) 475 7257
Email: info@dpp-wanitakatolik-ri.com

Dana Solidaritas ke rekening berikut:
1. BCA atas nama Wanita Katolik RI:
660 030028 6
2. Bank Mandiri atas nama Perkumpulan WK:
123 000 549 3418
Jangan lupa diberi keterangan DANA SOLIDARITAS

Nama Pimpinan:

(Masa Bakti 2013- 2018)
Ketua Presidium: Justina Rostiawati
Anggota Presidium I: Hildegard Della Pradipta Anggota Presidium II: Anastasia Irawatie Soedjadi


 

Kitab Suci Harian


Contact Information

DPP-WANITA KATOLIK-RI Sekretariat DPP-Wanita Katolik-RI
Phone: (021) 4758949
Fax: (021) 475 7257
info@dpp-wanitakatolik-ri.com